6 Perusahaan Australia investasi pembibitan sapi

JAKARTA (Bisnis.com): Enam perusahaan di Australia menandatangani nota
kesepahaman untuk berinvestasi pada pembibitan sapi di Indonesia
sebagi bagin program swasembada daging di dalam negeri.
"Dari sembilan perusahaan tersebut enam perusahaan telah menandatangani
MoU kerjasama business to business pada Jumat lalu pada saat
berlangsungnya Konferensi Asosiasi Peternakan Northern Territory (NTCA)
2010 di Darwin, Australia," tutur Menteri Pertanian Suswono usai
kunjungan kerja ke Australia hari ini.
Enam perusahaan Australia yang menandatangani MOU dengan GAPSI adalah
North Australian Cattle Company, Wellard Exports, South East Asia
Livestock, Consolidated Pastoral Company, Austrex, dan Landmark Global.
Kesepakatan tersebut ditandatangani setelah para peserta NTCA mendengar
presentasi promosi investasi dari tiga gubernur yakni Gubernur Papua
Barat Abraham Octavianus Atufuri, Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans
Lebu Raya, dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Badrul Munir.
Ketua Gabungan Pembibitan Sapi Indonesia (GAPSI) Adikelana Adiwoso
menyatakan di luar enam perusahaan tersebut masih banyak perusahaan
lainnya yang berminat. "Tiga perusahaan lagi sudah menyatakan minat
bergabung."
GAPSI pada proyek pembibitan itu melibatkan enam perusahaan nasional
yakni PT Santosa Agrindo, PT Agro Giri Perkasa, PT Lembu Jantan
Perkasa, PT Kadila Lestari Jaya, PT Widodo Makmur, dan PT Bedikari
United Livestock Indonesia.
Pada kesempatan itu, Mentan menegaskan Indonesia serius menjalankan
program dan kebijakan swasembada daging sapi 2014. "Selama ini,
Indonesia merupakan pasar besar dari sapi Australia. Jika para
pengusaha di Australia tidak ingin kehilangan pasar maka mulai
berinvestasi di tanah air saat ini juga," ujarnya.
Dia mengatakan meski saat ini pemerintah telah mendorong untuk mulai
swasembada daging sapi tapi impor masih diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan daging sapi di dalam negeri yang terus meningkat."Impor dapat
dilakukan asalkan tidak mendistorsi atau merusak harga sapi dalam
negeri," ujarnya.
Suswono menyatakan jika pemerintah menerapkan pembatasan impor hal
tersebut dikarenakan agar tidak terjadi kelebihan pasokan di dalam
negeri sehingga merugikan peternak di tanah air. Suswono menambahkan
pemerintah tidak gentar jika akibat berjalannya program swasembada
daging sapi ini maka Australia dan Selandia Baru akan membatasi
penjualan daging di ke tanah air.
"Saya tekankan jika Australia tidak mendukung program swasembada daging
sapi melalui investasi pembibitan di dalam negeri, jangan salahkan jika
kami [pemerintah] mengajak mitra negara lain. Saya yakin Australia juga
tidak mau kehilangan pasar besarnya begitu saja dari Indonesia,"
ujarnya.
Bisnis mencatat sasaran produksi daging sapi dari 2010-2014 dipatok
terjadi peningkatan. Pada 2010, produksi daging sapi ditargetkan
411.702 ton. 2011 sebesar 439.192 ton. 2012 mencapai 470.540 ton, 2013
sebanyak 506.127, dan pada 2014 tercapai sebanyak 545.621 ton.
Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh
Boediyana menuturkan langkah pemerintah menawarkan pada investor untuk
usaha pembibitan di Indonesia sangat tepat. "Jika mengundang investor
pada usaha penggemukan akan tidak tepat. Mengingat investor di dalam
negeri sendiri banyak yang bersedia," ujarnya .(htr)
sumber : web.bisnis.com
Berita "Artikel UMKM" Lainnya
BUMN Salurkan Dana PKBL Rp 2,6 T |
Budidaya Jamur Tiram Menjanjikan |
Di setiap gerai Carrefour dibentuk Pojok Rakyat |
BUMN Bina 65.000 UMKM |
PENGEMBANGAN KAWASAN ALIH DAYA (OUTSOURCING) DI JABABEKA |
Video Streaming








