Pesta Babi Menjelang Imlek

Jakarta - Engkong Saldi berleha-leha menikmati suasana
sore di atas bale-bale. Dia asyik mengamati orang lalu lalang di depan
pos keamanan di perempatan kampung Kapuk Jagal, Jakarta Barat. Kretek
yang terjepit di jarinya, dia hisap dalam-dalam. Sesekali dia
menyeruput kopi panas yang tersaji di sampingnya.
Namun
tiba-tiba, dua ekor babi menyelonong menuju bale-bale sambil
menguik-nguik. Engkong Saldi kaget bukan kepalang. Dengan refleks, dia
angkat kedua kakinya. Akibatnya, kopi panas yang baru dia minum
akhirnya tumpah karena tersenggol.
"Gara-gara babi, kopi gua tumpah dah," umpat pria berusia 67 tahun tersebut, Senin (9/2/2010).
Namun,
kekesalan Engkong Saldi hanya sesaat saja. Sebab, sudah biasa warga di
RT 01/07, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat melihat konvoi ternak babi.
Babi-babi itu digiring dari kandang untuk dibawa ke pejagalan atau
tempat pemotongan yang jaraknya sekitar 200 meter. Jika ada babi yang
tidak kuat berjalan, babi-babi itu akan diangkut mengunakan gerobak.
Babi-babi lemah ini biasanya babi yang baru datang dari daerah
pengiriman, seperti Manado, Bali, dan Jawa Tengah.
Sekalipun
aktivitas pemotongan babi di Kapuk Jagal menimbulkan bau tak sedap,
namun warga sudah biasa. Apalagi RPH sudah sejak tahun 1970-an membantu
penghidupan warga. Mereka bisa bekerja misalnya menjadi penggiring babi
dari kandang menuju tempat pemotongan.
Saat ini, warga diberi
upah Rp 5 ribu untuk setiap babi yang digiring. Kalau ada ratusan babi
yang digiring, tentu upah yang didapat lumayan banyak. Penghasilan para
penggiring babi ini biasanya semakin meningkat menjelang hari raya
seperti Natal dan Tahun Baru, atau Imlek, seperti sekarang ini.
"Setiap menjelang Imlek jumlahnya babi yang dipotong perhari bisa seribu ekor lebih," jelas Saldi.
Keterangan
Saldi tersebut dibenarkan Kepala Kantor Darma Jaya, pengelola rumah
potong hewan (RPH) Kapuk, Drh. Widhanardi. Menurutnya, sejak Minggu
(7/02/2010), RPH Kapuk telah memotong setidaknya 950 babi. Ini adalah
pesanan dari kongsi, para pemilik babi atau pemegang izin potong.
Jumlah pesanan tersebut akan meningkat mendekati hari raya Imlek yang
jatuh pada 14 Februari 2010.
"Dari catatan kami tiga hari ke
depan jumlah babi yang akan dipotong rata-rata sebanyak 1.000 sampai
1.200 ekor per hari," jelas dokter hewan lulusan Universitas Gajah Mada
(UGM) ini saat ditemui detikcom di kantornya.
Bagi masyarakat
Tionghoa, daging babi menjadi sajian penting dalam ritual sembahyang
'Sam Sippu'. Dalam ritual tersebut masyarakat Tionghoa dianjurkan
membawa berbagai sesajian, seperti kue, buah-buahan, daging ayam, teh,
arak, serta daging babi. Sesajian tersebut untuk dipersembahkan sebagai
ungkapan rasa syukur. Daging babi yang digunakan untuk sesajian ini
bisanya bagian flank (sancan) dan rib (iga).
Untuk itulah
permintaan daging babi meningkat untuk kebutuhan Imlek. Namun
Widhanardi tidak tahu persis soal babi per ekor yang dijual ke pedagang
daging. Tugas RPH hanya melayani jasa pemotongan serta menyediakan
tempat karantina. Urusan harga menjadi kesepakatan antara para bandar
dan pedagang. Namun pastinya, harga daging babi per kilo mengalami
peningkatan menjelang Imlek.
Pada hari-hari biasa, harga per
kilogram babi ecer hidup Rp 20.000, untuk babi jenis buras Rp 21.500,
sedangkan untuk babi jenis partai harganya bisa mencapai Rp 25.000 per
kilogramnya. Kalau dirata-rata, harga babi per ekor mencapai Rp 2-2,5
juta. Menjelang Imlek harganya mengalami peningkatan berkisar Rp 1.500
sampai Rp 3.000 per kilogramya. Sehingga harga babi per ekor bisa naik
menjadi Rp 3 jutaan per ekor, namun tentu saja tergantung berat dan
jenis babi itu.
Dari ketiga jenis babi yang di potong di RPH,
yang paling banyak dipesan menjelang Imlek adalah jenis partai. Babi
jenis ini memiliki lemak di dalam kulit yang lebih tipis dari babi
jenis yang lain, jadi dagingnya jauh lebih banyak. Babi jenis partai
merupakan babi yang berasal dari China. Sementara untuk jenis buras dan
ecer umumnya diternakan di Manado atau daerah-daerah lain di Indonesia
yang ada peternakan babi.
"Para kongsi (bandar) di sini umumnya
berasal dari China dan Manado. Jadi babi-babi yang kami potong hasil
peternakan dari Manado maupun China," ungkap Widhanardi.
Dari
pantauan detikcom, menjelang Imlek aktivitas di RPH Kapuk semakin
sibuk. Para bandar dan pedagang daging babi terlihat berkumpul di
kandang karantina. Mereka menunggu proses pemotongan babi, penimbangan,
sampai daging babi tersebut siap diangkut ke pasar. Suasana paling
sibuk ada di ruang pemotongan. 36 Pekerja pemotongan bekerja dari pukul
08.30-18.00 WIB, bahkan mereka kini harus bekerja lembur hingga tengah
malam. Menurut Widhanardi, sebagian merupakan karyawan dan sisanya
pekerja harian.
"Pekerja harian di pemotongan babi dibayar Rp 30
ribu. Upah tersebut belum termasuk uang makan dan intensif lain. Kalau
karyawan digaji bulanan," jelasnya.
Para pekerja ini dibayar
dari ongkos pemotongan yang dibayar para bandar. Berdasarkan tarif yang
telah ditetapkan dinas peternakan DKI Jakarta, untuk pemotongan babi
harga per ekornya Rp 51.750 plus PPn 10%. Sedangkan untuk biaya
pemeriksaan kesehatan babi serta pengangkutan menuju pasar-pasar di
wilayah DKI Jakarta, yang mengurus adalah Dinas Peternakan DKI Jakarta.
(ddg/fay)
Video Streaming








