Bisnis Busana Muslim Menggeliat Berkat Sinetron Religi

Jakarta - Berawal dari munculnya sinetron religi di
televisi yang didukung dengan artis-artis top dalam balutan busana
muslimah membuat bisnis busana muslimah semakin menjanjikan.
Tren
busana muslimah baru pun membentuk pasar sendiri di masyarakat. Hal
tersebut disampaikan Dirjen Industri kecil dan menengah (IKM) Deperin
Fauzi Azis saat membuka pameran produk busana muslim yang digelar di
Plasa Departemen Perindustrian Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa
(10/6/2008).
"Industri busana muslim, dewasa ini berkembang
menjadi industri garmen yang menjanjikan. Dengan makin maraknya
tayangan di televisi yang menunjukan sentuhan religius ternyata mampu
membentuk pasar tersendiri dan memunculkan tren budaya baru bagi busana
muslim," katanya.
Pameran ini dimulai tanggal 10-13 Juni 2008.
Pameran ditujukan untuk mengakomodir para perajin UMKM busana muslim
yang diikuti oleh 52 perajin dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan
Surabaya yang merupakan binaan Himpunan Masyarakat Perajin Indonesia
(HIMPI).
Ini merupakan terobosan penting dalam rangka peningkatan ekonomi nasional dan peluang ini harus dimanfaatkan.
"Perkembangan
industri busana muslim mulai marak di kota besar di pulau Jawa sejak
tahun 90-an, namun boomingnya baru dirasakan mulai tahun 1995. Saat ini
dengan desain yang menarik busana ini telah menyebar ke gedung
perkantoran, hotel mewah, serta sekolah-sekolah," ungkapnya.
Hal ini berarti busana muslim telah menjadi produk fashion yang memiliki peluang pasar yang menjanjikan di pasar domestik dan ekspor.
Walaupun
busana muslim sedang populer, namun ada kendala dengan masih banyaknya
bisnis yang dikelola oleh perusahaan perseorangan sehingga penerapan
manajemen belum handal, keterampilan SDM belum memadai dan keterbatasan
modal dan promosi.
Selain itu pakaian ini sebagian besar hanya digunakan menjelang hari raya dan hari besar Islam lainnya.
Menurutnya
kondisi bisnis garmen di Indonesia 2 tahun belakangan ini masih belum
menggembirakan, disebabkan naiknya komponen biaya produksi seperti BBM,
listrik, upah buruh, dan bahan baku. Ditambah lagi masuknya produk
Cina, Thailand dan belakangan Vietnam dan Kamboja sehingga persaingan
semakin ketat.
(arn/ddn)
Video Streaming








